Terima kasih anda telah mengunjungi blog ini, blog yang berisikan tentang ilmu geologi. Blog ini tak hanya ditujukan untuk geologist dan mahasiswa ilmu kebumian lainnya, namun blog ini juga ditujukan untuk anda yang penasaran terhadap ilmu geologi. Semoga bermanfaat!

Minggu, 12 Juni 2011

PENANGGULANGAN BENCANA AKIBAT LETUSAN GUNUNG

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Contoh bencana alam antara lain antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah langsor. Sedangkan bencana non alam contohnya adalah konflik social, epidemi dan wabah penyakit.

Dilihat dari letak geologis, cuaca dan kondisi sosial, Indonesia rentan terhadap beragam bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, badai dan angin topan, wabah penyakit, kekeringan dan gunung api. Bencana muncul ketika ancaman alam (seperti gunung api) bertemu dengan masyarakat yang rentan (perkampungan di lereng gunung api) yang mempunyai kemampuan rendah atau tidak mempunyai kemampuan untuk menanggapi ancaman itu (tidak ada pelatihan atau pemahaman tentang gunung api atau tidak siap siaga). Dampak yang muncul adalah terganggunya kehidupan masyarakat seperti kehancuran rumah, kerusakan harta benda serta korban jiwa.

Karena umumnya bahaya bencana dapat terjadi di mana saja dengan sedikit atau tanpa peringatan, maka sangat penting bersiaga terhadap bahaya bencana untuk mengurangi risiko dampaknya. Melalui pendidikan masyarakat, dapat dilakukan beberapa hal untuk mengurangi risiko bencana. Selain itu, agar masyarakat mengetahui langkah-langkah penanggulangan bencana sehingga dapat mengurangi ancaman, mengurangi dampak, menyiapkan diri secara tepat bila terjadi ancaman, menyelamatkan diri, memulihkan diri, dan memperbaiki kerusakan yang terjadi agar menjadi masyarakat yang aman, mandiri dan berdaya tahan terhadap bencana

Gunung berapi meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Akibat letusan tersebut bisa menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar pada wilayah radius ribuan kilometer dan bahkan bisa mempengaruhi putaran iklim di bumi ini, seperti yang terjadi pada Gunung Pinatubo di Filipina dan Gunung Krakatau di Propinsi Banten, Indonesia.

a. Dampak Letusan

Gas vulkanik adalah gas-gas yang dikeluarkan saat terjadi letusan gunung api antara lain Karbon Monoksida (CO), Karbon Dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur Dioksida (SO2) dan Nitrogen (N2) yang membahayakan bagi manusia. Lava adalah cairan magma bersuhu sangat tinggi yang mengalir ke permukaan melalui kawah gunung api. Lava encer mampu mengalir jauh dari sumbernya mengikuti sungai atau lembah yang ada, sedangkan lava kental mengalir tidak jauh dari sumbernya.

Lahar adalah banjir bandang di lereng gunung yang terdiri dari campuran bahan vulkanik berukuran lempung sampai bongkah. Lahar dapat berupa lahar panas atau lahar dingin. Lahar panas berasal dari letusan gunung api yang memiliki danau kawah, dimana air danau menjadi panas kemudian bercampur dengan material letusan dan keluar dari mulut gunung. Lahar dingin atau lahar hujan terjadi karena percampuran material letusan dengan air hujan di sekitar gunung yang kemudian membuat lumpur kental dan mengalir dari lereng gunung. Lumpur ini bisa panas atau dingin.

Awan panas (wedhus gembel) adalah hasil letusan gunung api yang paling berbahaya karena tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari awan panas tersebut kecuali melakukan evakuasi sebelum gunung meletusAwan panas hembusan adalah awan dari material letusan kecil yang panas, dihembuskan angin dengan kecepatan mencapai 90 km per jam. Awan panas jatuhan adalah awan dari material letusan panas besar dan kecil yang dilontarkan ke atas oleh kekuatan letusan yang besar. Material berukuran besar akan jatuh di sekitar puncak sedangkan yang halus akan jatuh mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer dari puncak karena pengaruh hembusan angin. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada bagian tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki, dan juga menyebabkan sesak napas sampai tidak bisa bernapas.

Abu Letusan gunung api adalah material letusan yang sangat halus. Karena hembusan angin dampaknya bisa dirasakan ratusan kilometer jauhnya. Pada letusan besar seperti pernah terjadi di Gunung Krakatau, abu yang dihasilkan bahkan menutupi sinar matahasi sampai berminggu-minggu.

b. Tindakan Kesiapsiagaan Persiapan dalam Menghadapi Letusan Gunung

Langkah kongkrit dalam kesiapsiagaan terhadap letusan Gunung antara lain adalah :
  1. Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung dan ancaman-ancamannya
  2. Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman
  3. Membuat sistem peringatan dini
  4. Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung api
  5. Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi berwenang
  6. Membuat perencanaan penanganan bencana Mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan
  7. Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting
  8. Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api (dikoordinasi oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pos pengamatan gunung api biasanya mengkomunikasikan perkembangan status gunung api lewat radio komunikasi

c. Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Saat Terjadi Letusan Gunung

Tindakan yang dilakukan ketika telah terjadi letusan adalah :
  1. Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan daerah aliran lahar Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan
  2. Masuk ruang lindung darurat bila terjadi awan panas
  3. Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya
  4. Melindungi mata dari debu, bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata Jangan memakai lensa kontak
  5. Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
  6. Saat turunnya abu gunung usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan

d. Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Setelah Terjadinya Letusan

Setelah terjadi letusan maka yang harus dilakukan adalah :
  1. Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
  2. Bersihkan atap dari timbunan abu karena beratnya bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan
  3. Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin motor, rem, persneling dan pengapian

Penanganan bencana letusan gunung berapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu persiapan sebelum terjadi letusan, saat terjadi letusan dan setelah terjadi letusan.

a. Penanganan sebelum terjadi letusan

  1. Pemantauan dan pengamatan kegiatan pada semua gunung berapi yang aktif
  2. Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Resiko Bahaya Gunung Berapi yang didukung dengan Peta Geologi gunung berapi
  3. Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunung berapi
  4. Melakukan pembimbingan dan pemberian informasi gunung berapi
  5. Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunung berapi
  6. Melakukan peningkatan sumberdaya manusia (SDM) dan pendukungnya seperti peningkatan sarana san prasarana
b. Penanganan saat terjadi letusan

  1. Memebentuk tim gerak cepat
  2. Meningkatkan pemantauan dan pengamatan dengan didukung oleh penambahan peralatan yang memadai
  3. Meningkatkan pelaporan tingkat kegiatan alur dan frekuensi pelaporan sesuai dengan kebutuhan
  4. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah setempat sesuai prosedur

c. Penanganan setelah terjadi letusan

  1. Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan
  2. Mengidentifikasi daerah yang terancam bencana
  3. Mmemberikan saran penanggulangan bencana
  4. Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang
  5. Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak
  6. Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun
  7. Melanjutkan pemantauan secara berkesinambungan.
Read more >>

Rabu, 22 Desember 2010

RemoteSensing,Teledetection,Telesensing,Penginderaan Jauh

RemoteSensing,Teledetection,Telesensing,Penginderaan Jauh

} Definisi : - ilmu dan teknologi yang mempelajari sifat2 fisik (mengukur, menghitung/menyelidiki) suatu benda, tanpa menyentuh atau berada ditempat benda tersebut, tidak terbatas waktu dan tempat, melalui media image /citra/potret udara hasil rekaman gelombang elektromagnetik.

Perkembangan Remote Sensing

} Awal mula: kerajaan di Eropa mengutus pionir untuk naik diatas ketinggian bukit melihat apakah ada pasukan musuh yang datang.

} Akhir abad ke 19 : mempergunakan balon terbang untuk mengintai kekuatan dan strategi musuh dan keadaan medan.

} Dipergunakan juga oleh para raja/bangsawan untuk menentukan batas tanah miliknya.

} Ahli geologi yang berada diatas bukit melihat pola sungai, struktur dsb.

Perkembangan Wahana/platform :

} Penemuan Pesawat Terbang

} Penemuan alat fotografi dan film

} Teknologi luar angkasa/ satelit

} Teknologi prosesing/komputer/digital/program

Memungkinkan orang dapat melakukan pengukuran sifat fisik dengan tidak terikat waktu dan tempat oleh orang lain.

---Pekerjaan Penafsiran/interpretasi--------

Perkembangan platform pesawat terbang :

} 1 Des. 1783 : peluncuran balon berpenumpang pertama di Paris (sebelumnya ditemukan balon hidrogen oleh Alexander Charles (1746-1822).

} Otto Lilienthal (1848-1896) melakukan percobaan terbang dengan pesawat layang dari atas bukit, jatuh, meninggal

} Wright bersaudara pemilik bengkel speda (Orviles + Wilbur) th 1903 percobaan menerbangkan pesawat bermesin selama 12 detik pd ketinggian 35 meter.

Perkembangan wahana satelit :

} 1960 Satelit cuaca (VOA-2, ESSA – 9,Nimbus.

} Peluncuran satelit sputnik (Uni Sovyet) keluar angkasa th 1975. satelit explorer,vanguard,tiros,itos,nimbus ATS

} Tahun 1980 satelit/pesawat ruang angkasa berpenumpang : Mercury, Gemini, Appolo/yang mendaratkan manusia di bulan 1979.

} Satelit pengindra ERTS yang kemudian berubah nama jadi Landsat (Amerika), SPOT (Perancis), Ikonos (Sovyet), JERSS (Jepang), Radarsat (Canada)

Tahapan penyelidikan :

} Multi stage : tergantung ketinggian terbang, resolusi citra (teknologi lensa) :

} Tahap perintis (exploratory),

} Tahap Peninjauan (reconnaissance),

} Tahap Terperinci (systematic, detailed),

} Tahap Khusus (spesific detailed study).

Multi Purpose :

} Kebumian : Geologi, geografi, kehutanan, pertanian, hidrografi, ocenanografi, meteorologi, astronomi

} Teknik sipil, planologi, perikanan, kelautan, militer, kepolisian.

Hasil interpretasi menjadi tergantung latar belakang ilmu yang dikuasainya.

Bentuk Pengumpulan data jarak jauh (remotely colletected data)

1. Geofisika : pengukuran besaran penyebaran gravity.

2. Sonar/gelombang akustik dalam sistim navigasi.

3. Sensor mata mengumpulkan data gelombang elektromagnetik.

Ctt : 1 dan 2 tdk termasuk remote sensing karena bukan mempergunakan gelombang EMR

Gelombang elektromagnetik (EMR)

} Termasuk EMR : sinar nyata, gelombang radio, panas, ultraviolet, sinar X

} Gelombang berjalan membentuk sinusoidal, saling tegak lurus antara gelombang elektro dan gelombang magnetik.

} sinar nyata (pelangi) adalah EMR yg mempunyai panjang gelombang 0,4 – 07 micronmeter. Biru 0,4 – 0,5; hijau 0,5 – 0,6; merah 0,6 – 0,7. ultra violet <> 0,7. thermal infra red;

Interaksi EMR dan Atmosfer

} Scattrering (terpencar) : Rayleigh scatter / molekul atmosfer, butir halus. Karena itu Langit nampak berwarna biru. Mye Scatter / butir air/ embun.

} Absorption (terserap) : butir air, carbon dioxide, ozone. Atmospheric windows/ jendela atmosfer :1) jendela merah infra dekat 0,7 – 2,4 mikronmeter, 2) merah infra menengah 3,5 – 5,5; 3) merah infra jauh 750 – 1000.

Interaksi EMR dg. Permukaan bumi

} Reflected/pantul : sempurna : cermin, permukaan licin, air laut yang tenang; sangat tergantung geomorfologi (kasar akan terbaur maka rona menjadi gelap).

} Absorbed/diserap : misal pada permukaan air yang kotor, sinar merah infra pada pohon yang sakit.

} Transmitted/diteruskan.

Spektrum gelombang EMR

} Yang mempunyai panjang gelombang lebih pendek dari sinar nyata (cosmis, sinar lamda, X. Ultra Violet), sementara yang lebih panjang dari visible light ( infrared pantul, thermal infra red, microwave, televisi dan radio)

Visible light (gelombang sinar nyata)

} Ultra violet (<>

} Sinar biru ( 0,4 – 0,5 )

} Sinar Hijau ( 0,5 – 0,6 )

} Sinar Merah ( 0,6 – 0,7 )

} Sinar merah infra pantul ( > 0,7 )

} Sinar thermal infra red ( >> 0,9 )

Kemampuan mata manusia terbatas 0,4 – 0,7.

Contoh interaksi EMR dg. flora

} Sinar nyata : Flora sehat : mengandung banyak klorofil, menyerap gelombang biru dan merah, sehingga yang dipantulkan adalah gelombang hijau (terlihat oleh mata).

} Sinar merah infra pantul : Flora sehat memancarkan >50 % sinar merah infra, oleh karena itu pada citra merah infra tanaman sehat nampak merah cerah, yang sakit tdk. Memantulkan sinar merah infra shg. berwarna gelap. Rumput asli merah cerah, rumput palsu berwarna gelap.

Interaksi EMR dengan batuan

} Batuan yang berkomposisi asam : mineral felsic yang dominan, maka pemantulan lebih besar dibanding penyerapan, maka batuan asam nampak cerah pada citra.

} Batuan yang berkomposisi basa : komposisi mineral ???

Hasil pantulan gelombang EMR yang diterima citra ada dalam berbagai tingkat warna yang disebut rona (tone) : cerah, abu-abu, bergradasi sampai gelap, tergantung komposisi batuan.

Proses pencampuran warna :

Didalam prosesing citra satelit dikenal Proses Additive : merah, biru dan hijau disatukan maka keluar warna putih. Antara biru dan merah terjadi warna cyan, sedangkan biru dan hijau terjadi warna magenta, merah dan hijau terjadi warna kuning.

Proses Substractive : cyan dengan kuning terjadi merah, magenta dengan cyan terjadi warna biru, kuning dengan magenta terjadi warna hijau.

Sinoptyc view

Adalah suatu keadaan dimana kemampuan mata untuk melihat permukaan bumi yang luas dapat sekaligus ditampilkan. Sementara kemampuan di lapangan terbatas hanya mengamati singkapan yang berukuran terbatas. Maka gejala geologi dapat dihubungkan satu dengan lainnya. Misalnya kenampakan struktur regional, penyebaran batuan, dsb.

Interaksi EMR dengan permukaan benda

  1. Pemantulan
  2. Penyerapan
  3. Pembelokan arah
  4. polarisasi


Pemantulan (Redirection)

}Tergantung : kekasaran/relief permukaan bumi, warna dan jenis batuan, panjang gelombang EMR, sudut jatuh sinar. Dengan rumus : hubungan h (kekasaran), ʎ (panjang gelombang) dan θ (sudut jatuh).

} Ada 3 jenis pemantulan : Cermin (specular reflectance), membaur (diffused reflectance), membaur kuat (hight diffused reflectance).

Specular Reflectance

} Apabila h < ÊŽ / 8 sin θ, terjadi pada air yang tenang – tidak bergelombang, kaca, beton, aspal/permukaan licin.

} Manifestasi pada citra/potret udara rona terang/ cerah.

Diffussed reflectance

} Bila h = ʎ / 8 sin θ, contohnya terjadi pada geomorfologi yang kasar atau air laut yang bergelombang. Geomorfologi yang telah mengalami erosi atau tektonik yang kuat.

} Rona : abu2, tekstur kasar

Pamantulan membaur kuat

} Terjadi bila h > ʎ / 8 sin θ, terjadi pada permukaan yang amat kasar. Misalnya geomorfologi yang mencerminkan tingkat erosi dan tektonik yang sangat kuat, perbedaan topografi antara lembah dan punggungan sangat besar, kemiringan lereng sangat tajam.

} Rona gelap, tekstur sangat kasar

Reflectance envelope (kantong pemantulan)

} Jumlah dan arah pembauran dari setiap permukaan bumi , dapat seluruhnya (spt pada cermin/specular reflectance) atau sebagian (partial).

Benda yang berwarna biru (0,4 – 0,5 mikronmeter) akan memantulkan warna biru dan menyerap warna lainnya

Kantong pemantulan geomofologi

} Tergantung dari sifat fisik permukaan bumi. Batuan yang berwarna putih/karena kandungan felsic mineral yang dominan (misal granit atau pasir kuarsa) akan lebih memantulkan lebih banyak.

} Wilayah bertopografi terjal (tektonik kuat), kantong pemantulan yang sangat membaur, maka EMR yang ditangkap citra akan menyebar.

Penyerapan

} Benda yang berwarna gelap lebih banyak menyerap EMR yang dirubah jadi panas.

} Batuan yang gelap (batubara, lava basalt) akan menyerap warna lebih banyak, maka akan memberikan rona gelap pada potret udara atau citra.

Penembusan dan pembelokan

} Cn = c/n, dimana Cn adalah kecepatan EMR pd benda, c adalah kecepatan gel. Pd. Ruang hampa udara, n adalah indeks refraksi.

} Bilamana kepadatan benda yang dilalui bertambah besar, kecepatan EMR akan berkurang, maka terjadi pembelokan.

Bila benda yang terkena EMR bening maka gelombang akan menembusnya (contoh air yang jernih).

Polarisasi

} Muka laut yang rata akan memantulkan komponen EMR yang horizontal saja dan menyerap yang komponen yang vertikal.

} karena sifat fisiknya : Mineral turmalin (mikroskop polarisasi).

Rona/Tone

} Rona adalah tingkat2 warna yang terdapat pada citra/potret udara. Digambarkan dalam tingkat relativitas warna dari mulai putih,abu2 cerah,abu2, abu2 gelap, gelap.

} Faktor yang mempengaruhi : topografi, tutupan lahan, litologi.

Tekstur

} Kumpulan dari rona. Kalau rona merata maka teksturnya disebut halus, kalau terdiri dari berbagai tingkat rona disebut tekstur kasar

} Geomorfologi yang sangat bergelombang akan memberikan kenampakan tekstur yang kasar.

} Alluvium memberikan tekstur yang halus.

Drainase tekstur

} Kasar : drainase relatif jarang

} Halus : drainase relatif halus

} Drainase keterkaitannya dengan curah hujan, porositas batuan, besaran aliran permukaan

} Porositas tinggi, kapasitas infiltrasi tinggi

} Porositas rendah kapsitas infiltrasi rendah

Drainese tekstur Kasar

} Pola aliran sungai jarang, jarak antar sungai relatif lebar. Air permukaan banyak masuk (kapasitas infiltrasi tinggi). Jenis batuan berbutir kasar, rongga antar butir.

} Jenis batuan sedimen klastis kasar : batupasir kasar, breksi, batuan vulkanik kasar

Drainase Tekstur Halus

} Sungai rapat. air limpasan / run off tinggi.

} Kapasitas infiltrasi rendah

} Batuan berbutir halus, rongga antar butir sedikit. Batuan vulkanik halus (tuff), pasir sangat halus, lempung.

karakter batuan sedimen

} Perlapisan (bedding) : kasar dan halus

} Joint : bidang lemah

} Resistanse terhadap pelapukan : komposisi

} Besar butir :



sumber : fakultas teknik geologi UNPAD

Read more >>

Senin, 29 November 2010

Pahoehoe Lava, Hawaii

Photograph by Steve and Donna O’Meara, Volcano Watch International/National Geographic
Pahoehoe lava flows on Kilauea volcano in Hawaii Volcanoes National Park. Unlike aa (pronounced “ah ah”) lava, pahoehoe flows relatively slowly, allowing an insulating skin to form that keeps the temperature close to 2,190°F (about 1,200°C). Aa lava, on the other hand, moves faster and doesn’t have time to develop a skin, resulting in a cooler flow with a more angular texture.



location
in hawaii volcano usa island north america sciene

reblog from http://nationalgeographicmagazine.tumblr.com/
Read more >>

Senin, 22 November 2010

klasifikasi citra bagi pemetaan penyebaran batuan

Lillesand & Kiefer (1994) menyatakan permukaan bumi sangat bervariasi dan kompleks dengan relief topografi, komponen material yang mendasari tiap bagian permukaan dan pelaku perubahan yang terjadi. Setiap batuan, retakan dan efek lain gerakan internal, erosi dan pengendapan merupakan tanda perubahan yang terjadi pada bumi. Seseorang yang akan merinci dan menerangkan material batuan bumi dan struktur geologi harus mengerti asas geomorfologi dan dapat mengenali variasi material dan struktur batuan.

Proses pemetaan geologi akan jauh dipermudah dengan menggunakan pengamatan citra landsat terlebih dulu. Deposit mineral yang ada di permukaan bumi atau dekat permukaan bumi yang mudah didatangi sudah sulit ditemukan, maka perhatian sekarang ditujukan pada deposit yang jauh dibawah bumi atau pada lokasi yang sulit didatangi. Banyak informasi tentang daerah yang potensial untuk eksplorasi dapat ditemukan dengan interpretasi bentuk permukaan pada citra landsat. Citra landsat sesuai untuk pemetaan geologi karena terdapat gelombang inframerah yang berfungsi untuk membedakan formasi batuan dan untuk pemetaan hidrotermal. Beberapa peneliti yang telah melakukan penelitian yang berhubungan dengan pengolahan citra yaitu Phill Clogg & Margarita Diaz-Andreu (1999) melakukan penelitian pengolahan citra yaitu citra jejak (record) pada batuan. Indra Riyanto dan wihartini (2007) melakukan penelitian pengolahan citra dengan metode transformasi wavelet A Trous dan segmentasi watershed.

Citra landsat yang ada seringkali belum dapat memberi informasi yang optimal, sehingga untuk memperoleh informasi yang baik perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Dalam penelitian ini dilakukan pengolahan citra landsat yaitu komposit warna, interpretasi manual visual, klasifikasi dan uji akurasi. Dari 2 proses tersebut akan dihasilkan produk berupa citra baru yang membantu dalam proses identifikasi kondisi geologi yaitu sebaran batuan dan struktur geologi. Selanjutnya dilakukan analisa citra menghasilkan peta geologi. Peta geologi mencakup penyebaran jenis batuan dan kelurusan (struktur geologi).


sumber : http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-11411-Chapter1.pdf
Read more >>

Sabtu, 20 November 2010

APA ITU PALEONTOLOGI?

Paleontologi : ilmu yang mempelajari kehidupan purba.
Paleobotani : studi tumbuhan purba.
Paleozoologi : studi hewan purba.

Paleontologi Vertebrata : homunid (manusia purba), hewan menyusui besar (gajah, badak, sapi/kerbau, rusa dll), hewan menyusui kecil (tikus kelinci dll).

Paleontologi Invertebrata :
Protozoa
Colentarata
Echinodermata
Porifera
Bryozoa
Brachiopoda
Moluska

>Berdasarkan dari ukuran obyeknya maka dibagi 2 :

>Makropaleontologi : adalah cabang dari paleontologi (paleontobotani/paleozoologi) yang mempelajari obyek-obyek dengan ukuran relatif besar dan tidak memerlukan alat bantu mikroskop contoh : paleontologi vertebrata.
>Mikropaleontologi : cabang dari paleontologi yang khusus membahas semua organisma yang berukuran kecil (mikroskopik) sehingga pada pelaksanaannya harus mempergunakan alat bantu mikroskop. Conto : Ostracoda, Radiolaria, Diatomea, Palynology, Nannoplakton dll.

Kegunaan Paleontologi :
>Menentukan umur geologi suatu tubuh batuan permukaan maupun dibawah permukaan (sub surface).
>Korelasi.
>Lingkungan pengendapan dan studi fasies.
>Membantu untuk memecahkan problem geologi struktur , misalnya dalam menemukan ada tidaknya sesar.



Fosil adalah sisa atau jejak tumbuhan atau hewan (organik) yang terawetkan secara alamiah dan berumur lebih tua dari Holosen (10.000 tahun yang lalu).

Syarat syarat pemfosilan :
>Penguburan yang cepat dalam suatu media pelindung.
>Mempunyai bagian-bagian yang keras, seperti cangkang, rangka.
>Kondisi yang bebas dari bakteri pembusuk sehingga proses pembusukan dapat dicegah.

Faktor-faktor yang memungkinkan pembentukan fosil pada organisma yang hidup didarat :
>Terperangkap oleh batugamping tufa. Air sumber pada pegunungan gamping mengandung banyak CaCo3. Jika air ini muncul di permukaan akan mengendapkan CaCo3. Di tempat inilah organisme akan tersimpan dan terawetkan karena diselimuti oleh selaput tipis CaCo3 sehingga terhindar dari bakteri pembusukan.

>Tertutup debu vulkanis. Pada waktu terjadi erupsi maka banyak debu yang jatuh disekitar lereng-lereng gunung api. Debu ini dapat mengubur hewan maupun tumbuhan sehingga terawetkan contoh : fosil-fosil invertebrata di Jawa.

>Tertutup oleh endapan loess(endapan debu yang sangat halus yang diendapkan oleh angin). Debu ini dapat menutupi semua hewan yang mati terutama gastropoda serta invertebrata yang lain yang hidup di darat sehingga memungkinkan menjadi fosil.


Proses Pemfosilan :
>Fosil-fosil yang tidak termineralisasi
>Fosil-fosil yang termineralisasi.

Fosil-fosil yang tidak termineralisasi.
Pada kelompok ini, rongga-rongga pada cangkang fosil tidak mengalami pengisian oleh mineral. Kelompok ini terdiri dari :
>Fosil yang tidak terubah, banyak dijumpai pada batuan berumur Mesozoikum dan kenozoikum, seperti gigi ikan hiu, berbagai tulang dan cangkang moluska.
>Amber, terbentuk jika hewan atau tumbuhan terperangkap didalam getah.
>Distilasi, merupakan proses pemfosilan dimana kandungan gas dan air pada organisme menguap dan meninggalkan residu karbon (carbonaceous residue)
>Mumi, merupakan proses pemfosilan yang diakibatkan oleh kondisi yang sangat kering.
>Pemfosilan dalam aspal, prosesnya sama seperti amber tetapi yang merupakan bahan pembungkus adalah aspal.
>Pemfosilan dengan cara pembekuan. Dalam hal ini hewan yang mati tertutup serta terlindungi oleh lapisan es yang pembekuannya dengan segera.




Fosil-fosil yang termineralisasi :
Fosil yang termasuk dalam kelompok ini mengalami penambahan, pengurangan atau penggantian seluruh zat-zat penyusunnya. Kelompok ini terdiri dari : Histometabasis dan boring.

Histometabasis, merupakan istilah yang khusus digunakan untuk fosil yang terbentuk akibat proses penggantian jaringan organisme oleh mineral dengan tetap mempertahankan struktur asalnya. Histometabasis dibagi menjadi :
>Tapak (external mold) : merupakan impresi (gambaran) bagian luar yang ditinggalkan oleh organisme dalam batuan.
>Tuangan (internal mold) : adalah impresi yang terjadi karena fosil itu sendiri oleh satu dan lain hal telah lenyap dan rongga kosong di dalam lapisan tanah yang ditinggalkan oleh fosil itu diganti oleh zat lain.
>Cetakan (cast) : jenis ini terjadi terjadi jika rongga antara tapak dan tuangan terisi oleh suatu zat lain dari luar, sedangkan fosil itu sendiri oleh satu dan lain hal telah lenyap.

Boring
Merupakan liang dalam tanah yang dibuat oleh hewan seperti cacing, tikus, kerang, dan lain-lain yang bila terisi oleh batuan dapat menjadi fosil.

KLASIFIKASI
Klasifikasi diartikan sebagai suatu aturan yang mengelompokkan benda-benda dalam kategori masing-masing. Maksud dari klasifikasi adalah penyederhanaan. Dalam hal klasifikasi organisma, hal-hal yang diperhatikan adalah hubungan genetika antara yang satu dengan yang lainnya melalui taraf-taraf evolusi.


Terdapat dua macam istilah klasifikasi organisma, yaitu :

>Natural classification, adalah suatu penggolongan organisma berdasarkan pada jenis lingkungan yang ditempatinya, misalnya : lingkungan sungai, laut, rawa dll.
>Artificial classification, adalah suatu penggolongan organisma berdasarkan sifat-sifatnya (characters), seperti habitat, ukuran, penyebaran kedalaman dan geografi.

Henry Wood, pada tahun 1958 telah membahas secara praktis mengenai 9 phyla dalam klasifikasi hewan. Ke 9 phyla tersebut adalah :

Kingdom -----> Sub Kingdom
Branch -----> Sub Branch
Grade -----> Sub Grade
Phylum -----> Sub Phylum
Class -----> Sub Class
Ordo -----> Sub Ordo
Super-Family -----> Family
Genus -----> Sub Genus
Species -----> Sub Species

Dalam pembahasa paleontologi, biasanya klasifikasi dimulai dari Phylum hingga species


Nomenklatur
Organisma yang hidup atau pernah hidup (sudah menjadi fosil) pasti mempunyai nama. Nama organisma tersebutumumnya menggunakan Bahasa Latin. Bahas latin pada umumnya merupakan bahasa yang sudah dipakai dalam hal-hal ilmiah (pada saat itu) dan bahasa ini digolongkan sebagai bahasa mati, bahasa yang tidak akan mengalami perubahan.

Seorang ahli bangsa Swedia, Carl Von Linne (1707-1778), telah memperkenakan sistem Binominal Nomenclature atau sistem penamaan binominal pada organisma. Binominal nomenclatur menggunakan 2 nama pada setiap organisma, dengan pembagian :
1)Nama Pertama adalah Nama Genus, huruf pertama huruf besar, contoh : Globigerinoides.
2)Nama kedua adalah nama Species, huruf pertama huruf kecil, contoh : immaturus.

Jadi nama organisma tersebut adalah Globigerinoides immaturus.
Read more >>

Rabu, 17 November 2010

kegunaan fosil "Mengetahui evolusi makhluk hidup"

Para ahli paleontologi, setelah meneliti isi fosil dari lapisan batuan batuan yang berbeda-beda umurnya berkesimpulan bahwa batuan yang lebih tua mengandung fosil yang lebih sedikit, bentuknya lebih primitip. Semakin muda umur batuannya, isi fosilnya semakin banyak dan strukturnya semakin canggih. Dari sini kemudian para ahli tersebut berkesimpulan bahwa organisme yang pernah ada di bumi kita ini mengalami perkembangan, mulai dari sederhana menunju ke bentuk yang lebih kompleks dalam waktu yang sangat lama. Hal ini yang kemudian dikembangkan oleh ahli biologi sebagai teori evolusi organisme.


sumber http://geologikita.blogspot.com/
Read more >>

Kamis, 11 November 2010

PALEONTOLOGI - Phylum Moluska - Klas Pelecypoda

Phylum Moluska
Berasal dari bahasa latin mollusca yang berarti sejenis kacang-kacangan yang terbungkus oleh cangkang yang tipis. Sering juga dinamakan lamelibranchiata (binatang berinsang berbentuk lempeng) atau bivalvia (mempunyai 2 lempeng). Phylum Moluska mencakup kelompok hewan penting yang jumlahnya meliputi lebih dari 150 ribu spesies yang masih hidup dan beberapa ribu spesies yang telah punah.
Ukuran binatangnya berlainan, berkisar antara beberapa mm sampai 25 m, namun Tridacna, kelompok pelecypoda yang hidup dilaut sekarang berbobot 225 kg, dimana bila ke2 cangkangnya terbuka, seorang anak kecil dapat masuk kedalamnya.
Phylum Moluska mulai muncul pada permulaan zaman Kambrium serta mempunyai daya adaptasi yang sangat besar . Mereka dapat hidup di darat mulai dari iklim yang lembab sampai iklim padang pasir, juga hidup di padang rumput. Beberapa jenis dapat memanjat pohon serta bukit-bukit yang tinggi , sementara yang hidup di laut berupa plankton, nekton dan bentos. Umumnya bertahan hidup beberapa tahun saja, namun ada juga yang dapat berumur panjang misalnya Tridacna.
Moluska mempunyai tubuh yang lunak, tidak beruas, pada umumnya simetri bilateral (kecuali kelompok gastropoda), dan biasanya dilindungi oleh cangkang dengan mulut berada di bagian anterior dan anus di posterior. Kaki ada di bagian ventral yang berguna untuk merayap, menggali mengebor dan berenang dan mantel di bagian dorsal.
Cangkang moluska yang hidup di laut terbentuk dari kalsit dan aragonit, sedang yang hidup di darat dan air tawar terbentuk dari aragonit.
Berdasarkan hypotetical fosil archimolusc (ancestor molusc) maka Moluska terbagi menjadi beberapa kelas,seperti telihat pada gambar 1

Read more >>